TRENDING NOW

KESESATAN SYIAH : Rakyat di berbagai kota di Iran menjadi saksi demonstrasi besar-besaran di beberapa hari terakhir. Protes menyuarakan berbagai keadaan ekonomi, politik, dan sosial di Iran, termasuk “kemiskinan, pengangguran” di negara tersebut, tanpa ditujukan dari dan kepada politisi atau kelompok politik tertentu.

Demonstrasi Iran ini dimulai di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran dan salah satu kota agamis dan spiritual negara tersebut. Dari Mashhad, protes menyebar ke Nishapur, Shahrud, Kermenshah, Qom, Rasht, Yazd, Qazvin, Zahedan, Ahvaz, dan kota-kota lainnya. Kemarin, para mahasiswa Universitas Teheran meneriakkan slogan-slogan protes dari halaman kampus.

Korban perusahaan yang bangkrut

Sesungguhnya, demo-demo ini tak muncul dengan sendirinya. Setahun ini, para korban yang kehilangan uang investasi mereka di perusahaan-perusahaan keuangan yang bangkrut – jumlahnya sekitar 6.000 orang – khususnya di Teheran dan beberapa kota lain, telah mengorganisasi demo kecil-kecilan dan menyuarakan protes mereka dengan slogan-slogan bernada keras.

Diperkirakan ada beberapa juta orang di Iran yang melakukan demo-demo sporadis seperti ini. Negara dan pemerintah baru turun tangan ketika demonstrasi meluas.

Partisipasi si miskin dan oposisi

Masyarakat biasa adalah peserta mayoritas dalam demonstrasi baru-baru ini. Namun, kali ini segmen masyarakat miskin dan kelompok politik oposisi sepertinya mulai ikut-ikutan.

Tuntutan utama dalam demo ini adalah kondisi kehidupan di negara tersebut, termasuk soal kemiskinan, pengangguran, konsentrasi kebijakan ekonomi dan luar negeri Iran, yang pada akhirnya menyibak hubungan antara ketiga kelompok ini.

Slogan-slogan protes

Slogan-slogan yang digunakan oleh para pedemo, antara lain: “Jangan habiskan uang kami di Suriah, Gaza, dan Lebanon”, “Rakyat miskin seperti pengemis” dan “mereka yang melihat Reza Shah Pahlevi sebagai simbol modernisasi negara tersebut mendoakannya”.

Slogan yang lain juga termasuk: “Tinggalkan Suriah dan lihatlah kondisi kami”, “Bukan Gaza, atau Lebanon, hidupku untuk Iran”, “Hezbollah terkutuk”, “Kami tidak ingin republik Islam”, “Republik Iran yang merdeka dan bebas”, dan “Rakyat mulai mengemis”.

Tak diragukan lagi, otoritas dari dua sayap politik di Iran mengharapkan insiden meledak, menurut bocoran informasi dari institusi intelijen dan keamanan mereka. Meski begitu, mereka memilih untuk tak mengganggu protes masyarakat dan mengizinkan mereka menyuarakan ketidakpuasan mereka akan kondisi ekonomi.

Demonstrasi bisa menyebar

Nasib para korban investasi masih tak jelas karena perusahaan keuangan yang – nyaris seluruhnya milik golongan konservatif – telah dinyatakan bangkrut.

Pemerintah hanya mau membayarkan utang-utang milik perusahaan “Caspian” dan “Alborz” yang sebelumnya mendapatkan jaminan dari Bank Sentral Iran. Kegagalan pemerintah untuk menutup utang perusahaan-perusahaan lain yang bangkrut mengancam demonstrasi untuk menyebar.

Jika utang-utang itu dibayar dengan uang negara, maka masyarakat dari kelompok yang tak berinvestasi bisa timbul. Di sisi lain, jelas pemerintah tak bisa membayar semua uang masyarakat karena pemerintah pun sedang mengalami keterbatasan sumber daya keuangan.

Pasukan keamanan bertahan

Banyak skenario yang membahas siapa di balik demonstrasi ini. Pasalnya, unjuk rasa turun ke jalan di Iran hanya bisa dilakukan setelah mendapatkan izin tertulis dari pasukan keamanan Kementerian Dalam Negeri dan pemimpin Iran.

Meskipun pemerintah telah mengumumkan unjuk rasa ini “tidak berizin dan ilegal”, pasukan keamanan dari polisi maupun Garda Revolusi Islam sama sekali tidak mencampuri proses demonstrasi. Mengingat bahwa demonstrasi juga telah berlangsung selama beberapa hari, bisa dipastikan bahwa tidak ada “penangkapan acak” yang dilakukan.

Reformis dan konservatif jadi target

Pada unjuk rasa kali ini, berlawanan dengan yang sebelumnya terjadi, terutama pada peristiwa Hasutan (sedition) pada 2009 yang menaikkan kelompok sayap reformis di Iran, sekarang baik kelompok reformis maupun konservatif menjadi target pedemo. Kenyataan ini sempat membuat kaget otoritas dari kedua sayap, pun demikian para komentator politik.

Meski demikian, demonstrasi ini telah meraih dimensi politis, dan berubah menjadi panggung yang tak disangka-sangka oleh otoritas. Untuk alasan ini, dengan menyebarnya demonstrasi ke seluruh penjuru negeri, kedua sayap pemerintahan dan konservatif saling menyalahkan, dan mengaku tak terkait dengan insiden yang terjadi.

Pernyataan bertolak belakang

Wakil Presiden Pertama Iran Eshaq Jihangiri di akhir pekan ini beerkata: “Permasalahan ekonomi digunakan sebagai alasan sementara sesuatu yang lain, di balik tirai, sedang berlangsung.”

The Iran – harian milik pemerintahan Hassan Rouhani – juga berkata dalam artikel yang dicetak di halaman utama kemarin: “Beberapa orang berpikir publik adalah mainan yang bisa digunakan untuk mencapai keinginan pribadi.”

Di sisi oposisi, Imam Salat Jumat di Teheran dalam khotbah pekan lalu berkata: “Kita tak boleh membiarkan ruang sosial kosong sehingga benak orang-orang tidak diracuni dan buram karena kata-kata yang tak seimbang.”

Hossein Shariatmadari, salah satu politisi dari sayap konservatif dan pemimpin koran Keyhan yang berkaitan dengan Pemimpin Agung berkata: “Penderitaan orang-orang karena mata pencaharian, adalah hasutan baru para pembuat onar.”

Pasukan Garda Revolusi juga berkata: “Beberapa kelompok menginginkan peristiwa hasutan baru.”

Mentor dari Presiden Rouhani, seperti spesialis hubungan internasional dan politik Ferzane Rustayi, percaya bahwa demonstrasi berasal dari oposisi yang mencoba mempublikasikan keberatan-keberatan mereka.

Mereka melihat kegagalan Rouhani untuk menolak intervensi rezim Iran di Yaman dan penunjukan menteri wanita Sunni di kabinet, juga kebungkamannya soal penangkapan rumah pemimpin oposisi Mehdi Karroubi dan Mir-Hossein Mousayi sebagai alasan. Secara singkat, kita bisa menyebut demonstrasi ini sebagai “penyesalan pemberi suara kepada Rouhani”.

Berbagai insiden yang telah terjadi di Iran sejak 20-30 tahun belakangan menunjukkan bahwa tak satu pun unjuk rasa ini – baik yang berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi, hak asasi wanita, maupun soal alam – bisa dicegah menabrak dimensi politik.

Akhirnya, bisa dikatakan bahwa kedekatan sayap reformis dengan konservatif, yang berakhir di masa kepresidenan Hassan Rouhani, membawa serta keberatan politis dari masyarakat kepada kedua sayap tersebut.

KESESATAN SYIAH : Riyadh – Putra mahkota Arab Saudi pangeran Muhammad bin Salman mengelurkan pernyataan tajam terkait pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebutnya sebagai Hitler baru di Timur Tengah.

Muhammad bin Salman menyoroti sepak terjang Iran di wilayah Timur Tengah saat wawancara dengan media New York Times, yang dipublikasikan pada Kamis (23/11/2017). Teheran dinilai telah campur tangan setidahnya dalam 4 negara, yaitu Yaman, Suriah, Lebanon, dan Irak. Hal itu memicu komentar tajam putra mahkota kerajaan Saudi terhadap pemimpin tertinggi di Iran, Ali Khamenei.

“Pemimpin tertinggi Iran adalah Hitler baru di Timur Tengah,” kata Muhammd bin Salman.

“Tapi kami telah belajar dari Eropa bahwa peredaman itu tidak akan berhasil. Kami tidak ingin Hitler baru di Iran mengulangi apa yang terjadi di Eropa terjadi Timur Tengah,” ujarnya.

Saat wawancaraa itu, Muhammad bin Salman didampingi oleh sejumlah menteri Kerajaan Saudi. Hadir pula Pangeran Khalid, saudara Muhammad bin Salman yang baru saja menjabat sebagai Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat.


Dalam wawancara itu pangeran berusia 32 tahun itu juga menekankan upaya pengembangan Islam yang disebutnya lebih moderat, seperti sebelum tahun 1979. Moderat yang dimaksudnya adalah Islam yang terbuka kepada dunia dan semua agama, semua tradisi, dan semua masyarakat.

Namun, dia menolak pengembangan Islam moderat itu disebut sebagai upaya menafsirkan ulang Islam. “Jangan tulis kami sedang menafsirkan ulang Islam, kami mengembalikan Islam ke asalnya, dan perangkat terbesarnya adalah praktik Nabi Muhammad dan kehidupan di Arab Saudi sebelum 1979,” terangnya.

Kemudian salah seorang menteri Arab Saudi mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan kepada wartawan New York Times video di YouTube yang menunjukkan kondisi Arab Saudi di tahun 1950an. Wartawan itu menyebutkan wanita-wanita dalam video itu tanpa penutup kepala, dan berjalan di tempat-tempat umum.

Seperti diketahui, pangeran Muhammad bin Salman melakukan sejumlaha gebrakan dalam pemerintahan Arab Saudi. Selain menangkap sejumlah pangeran dan pejabat yang dituduh terlibat korupsi, dia juga menyatakan akan mengembangkan Islam yang moderat.

Sumber: New York Times
Redaktur: Imam S.
KESESATAN SYIAH : Wakil menteri luar negeri Iran, Hussein Gabri Ansari, mengatakan bahwa perang di Suriah dan Irak sangat melelahkan bagi negaranya dan mereka mencari solusi untuk menghentikannya melalui Astana.


Ansari mengatakan bahwa negaranya tengah mencari strategi untuk mengakhiri perang melelahkan di Suriah dan Irak, menambahkan bahwa kelanjutan situasi tersebut akan menyebabkan terkurasnya energi Iran dan sekutunya di wilayah tersebut dan sangat melelahkan bagi pasukan lain di sana.


Wakil Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa harus terjadi pergeseran yang jelas untuk merubah wilayah tersebut dari statusnya saat ini, mencatat bahwa pertemuan Astana adalah sebuah pergeseran untuk mengakhiri perang Suriah, dan bahwa yang membedakan Astana adalah kerja sama antara semua pihak – bahkan pesaing – dan bekerja dalam kerangka kerja yang spesifik dan tujuan bersama.

Ibukota Iran Teheran menjadi tempat pertemuan pada 8 Agustus, sebuah pertemuan para ahli dari Rusia, Turki dan Iran dalam persiapan untuk perundingan putaran baru Astana, yang membahas aspek militer dan politik perang antara rezim Suriah dan oposisi bersenjata Suriah.

Putaran pembicaraan berikutnya diperkirakan akan berlangsung pada 14-15 September, dan akan fokus pada kekuatan yang direncanakan oleh tiga negara (Rusia, Iran dan Turki) untuk ditempatkan di sana.

Seorang perwira di militer Iran telah mengungkapkan kematian 25% sampai 30% pejuang Garda Revolusi dan milisinya yang berperang di Suriah, mencatat bahwa statistik ini adalah statistik yang sama dengan jumlah kematian Amerika selama perang mereka di Irak dan Afghanistan 10 tahun lalu. lamurkha.blogspot
KESESATAN SYIAH : Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berperan banyak melindungi akidah umat dari bahaya Syiah. Ajaran Imamah yang dianut paham itupun dinilainya sangat berbahaya.

“MUI punya peran sentral menjaga kemurnian akidah umat. Terkait paham Syiah, dalam rakernas tahun 1984, MUI telah merekomendasikan bahwa paham Syiah memliki perbedaan pokok dengan Ahlussunah yang menjadi keyakinan umat Islam Indonesia,” jelasnya saat memberi sambutan di Mudzakarah Nasional II Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Ahad (14/5).

Deddy mengatakan pihaknya tidak ingin konflik Syiah yang terjadi di berbagai daerah kembali terulang di Indonesia. Seperti konflik Sampang yang telah melahirkan banyak korban.

“Kita tidak ingin insiden Sampang terjadi di bumi pertiwi, khususnya di Jabar. Sehingga acara ini harus bisa menjadi masukan bagi pemerintah,” imbuhnya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa tahun 2018 adalah tahun politik di mana pilkada serentak akan dilaksanakan. Karena itu, Dedy meminta umat Islam mewaspadai tahun politik ini dimanfaatkan oleh Syiah.

“Keimamahan paham Syiah sudah sangat jelas bahaya dan perlu diwaspadai,” tandasnya.

Reporter: Pizaro/INA
Editor: Imam S.
KESESATAN SYIAH : Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) menggelar Mudzakarah Nasional II di Hotel Grand Asrilia, Bandung. Selain bahaya Syiah, mudzakarah kali ini juga menyoroti ancaman Komunis.


Dalam sambutannya, Ketua Umum ANNAS KH. Athian Ali Dai Lc. MA. mengaku prihatin dengan ancaman yang luar biasa terhadap akidah umat dan negeri ini. “Kehadiran Syiah dan Komunis bisa jadi kesempatan dari Allah kepada kita untuk mempertahankan negeri yang kita cintai. Untuk membela umat dari pemahaman yang sesat dan menyesatkan,” ujarnya Ahad (14/5).

Komunisme, lanjut KH. Athian, sudah terbukti berulang kali melakukan kudeta hingga menimbulkan korban. “Komunis bukan lagi ancaman tapi sudah terbukti membahayakan bangsa Indonesia,” imbuhnya.

KH. Athian menambahkan, Syiah boleh jadi lebih berbahaya dari komunisme. Hingga kini, keberadaan Syiah menimbulkan konflik horizontal di Indonesia.

Menurutnya ajaran Syiah benar-benar bisa memancing darah seorang muslim mendidih. Pasalnya, ajaran Syiah penuh dengan penodaan terhadap ajaran Islam.” Ajaran Islam mereka hina dan nista. Allah dan Rasulullah mereka hina,” paparnya.

Kini, Syiah tengah melakukan kekacauan di dunia Islam. Di Irak, Iran, Arab Saudi, Suriah, Yaman, dan negara-negara lainnya. “Saya pernah ke Iran selama sepekan dan umat Islam semakin sulit bernafas di Teheran,” jelas dia.

Informasi yang diperoleh Islamic News Agency (INA), acara ini dihadiri oleh 300 alim ulama, dai dan aktivis dari seluruh Indonesia. Turut hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Prof. DR KH Didin Hafidhudin, para pejabat di daerah Jawa Barat dan perwakilan ormas Islam.
KESESATAN SYIAH : Ratusan massa mengatas namakan Perkumpulan Pencinta Keluarga Nabi (PPKN) mendatangi kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Pucangan, Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (9/5/2017).


PPKN yang merupakan salah satu elemen umat Islam di Solo itu menolak kajian bedah buku “Islam Tuhan Islam Manusia” karena dianggap membawa paham sesat Syiah.

Massa yang datang secara bergelombang itu, akhirnya berorasi diluar Kampus IAIN. Sementara bedah buku “Islam Tuhan Islam Manusia” dengan pembicara Haidar Bagir tetap jalan terus dengan pengawalan ketat aparat TNI dan Polri sebanyak 1200 personil.

“Haidar Bagir ini telah lama menjadi sorotan kaum muslimin, karena menodai ajaran Islam karena dia beragama Syiah. Tidak ada baiknya, coba kalian lihat negara yang di situ ada Syiahnya pasti di situ akan perang, ada penindasan,” kata salah satu orator.

Lebih lanjut, Ustadz Nurhadi Wasono dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta menyampaikan kepeduliannya dengan sistem pendidikan yang bersih dari pemahaman sesat Syiah. Dia tidak rela jika di kampus-kampus Islam justru menjadi bibit penyebaran Syiah.

“Kepada bapak polisi, kepada pengelola pendidikan IAIN, kami orang muslim yang punya kepedulian pada pendidikan dan generasi. Kami tidak rela pendidikan kami, tidak rela generasi kami dihancurkan orang-orang Syiah, kami akan membela pendidikan kami ini,” ujarnya.

Hampir sekitar tiga jam mereka berorasi dan memahamkan kesesatan Syiah. Namun tidak ada satupun pihak kampus yang menemui para pendemo. Ratusan Mahasiswa yang tidak mau ikut kajian Haidar Bagir memilih menonton demo yang mengkritisi kampus mereka.

“Saya tidak suka kajiannya, pilih lihat ini saja. Banyak kok yang tidak suka dengan kajiannya itu, tahu Haidar Bagir tokoh Syiah,” kata salah satu Mahasiswa yang enggan menyebut namanya. [SY]
KESESATAN SYIAH : Iran sebagaimana dipahami oleh sebagian orang adalah sebagai negara Islam dengan sistem republik yang mengusung perlawanan terhadap zionis Yahudi (Israel) dan menentang hegemoni barat (Amerika Serikat), namun sejatinya penuh dengan kebohongan. Perlawanan hanya sebatas simbol belaka, Syiah tetaplah Syiah sebagai penghianat.



Sejarah telah membuktikan bahwa kaum Syiah selalu berkhianat, Syaidina Hasan ra dan Syaidina Husein ra adalah korban pengkhianatan Syiah. Perang Karbala adalah pengkhianatan terbesar kaum Syiah yang menyebabkan Syaidina Husein ra gugur sebagai syahid di Padang Karbala. Begitu pun Revolusi Khomeini tahun 1979 – yang berhasil menggulingkan rezim Shah Pahlevi – hanyalah sebagai pintu masuk (entry point) penyebaran ideologi Syiah secara massif dan ofensif, sistematis, terstruktur dalam sistem pemerintahan Iran melalui perwakilannya (Kedubes) di berbagai negara.

Khomeini telah berhasil membangun geopolitik dan geostrategi Syiah Iran dalam masa kekosongan kepemimpinan politik Syiah yang dimulai sejak ghaibnya Imam kedua belas (klaim Imam Mahdi). Padahal, Imam Mahdi yang dimaksud tidaklah ghaib sebagaimana diklaim Syiah, tegasnya suatu a-historis. Kebenaran Syiah dibangun di atas “kebohongan yang dikalikan seribu”.

Khomeini bukanlah sosok jenius, taat dan muslim, dia adalah Syiah hedonistic dengan segala kemungkarannya. Dia pula yang merekontruksi gagasan Wilayat al-Faqih versi Muhaqqiq Karaki (W.1561 M), yang sekarang menjadi pilar kekuatan Syiah Iran dan sekaligus ancaman, khususnya bagi kawasan Timur Tengah saat ini dan seluruh negara Islam di dunia pada umumnya. Konsep Wilayat al-Faqih kemudian oleh Khomeini diterjemahkan menjadi deputi (wakil) Imam Mahdi (Baca: Rahbar) dan dia sebagai Rahbar pertama.

Iran melalui Hizbullah telah mampu menjadikan Lebanon sebagai “negara bagian Iran”, adapun Hizbullah bertindak sebagai “negara dalam negara” dan “actor non state” untuk kepentingan negara Iran selaku “penerima manfaat” (beneficiary state). Iran mendukung pemerintahan otoriter Basyar Asad dan pemberontakan suku Houthi di Yaman, serta mendapatkan otoritas “gratis” di Irak dari Amerika Serikat. Semua itu diproyeksikan untuk melemahkan negara-negara kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.

Keinginan Syiah Iran untuk menguasai Arab Saudi adalah suatu keniscayaan. Jika Syiah Iran berhasil menguasai Makkah dan Madinah, maka akan sangat mudah untuk menguasai dunia muslim. Perang adalah ambisi mereka, dan mereka sangat yakin akan munculnya Imam Mahdi yang ditunggu sejak lama guna membalaskan dendam atas hancurnya kekaisaran Persia yang mereka agungkan. Tidaklah mengherankan, jika mereka menginginkan krisis kawasan Timur-Tengah. Terjadinya “Arab Spring” sangat menguntungkan posisi Syiah Iran. Kekuatan militer mereka terus bertambah, belum lagi proyek pengayaan nuklir yang mencemaskan dunia, selain juga memiliki bargaining position atas jalur minyak dunia.

Kita ketahui, saat ini kondisi di Suria demikian tidak menentu, pemerintahan Lebanon juga tidak mampu berdaulat dengan adanya intervensi kekuatan militer Hizbullah, di Irak populasi Sunni semakin menipis dan kontrol ada di tangan Iran. Demikian pula di Yaman, pemberontakan demikian hebatnya dengan dukungan Iran. Tidak dapat dipungkiri semuanya itu memang diinginkan oleh Syiah Iran guna mempercepat munculnya Imam Mahdi yang mereka klaim.

Pada akhirnya dunia akan dikejutkan dengan hadirnya dua sosok Imam Mahdi, yakni: Imam Mahdi versi Sunni dan Imam Mahdi versi Syiah. Pada saat itu dunia tengah menghadapi ancaman Perang Dunia III (Armageddon) dan itu bermula di Suria! Kemudian umat Islam akan berperang melawan Rum (Barat) dan dilanjutkan perang melawan Syiah Iran “The New Persia” dan Yahudi. Sketsa di bawah ini memvisualisasikan uraian di atas.



Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa Syiah dan Iran adalah satu kesatuan, dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan, “ibarat dua sisi mata uang yang sama.” Republik Iran didirikan atas dasar landasan teologi imamah (doktrin Dua Belas Imam maksum). Penyebutan Syiah Iran menggantikan Syiah Imamiyah yang terpecah ke dalam banyak sekte, dan pasca Revolusi Khomeini dengan keberlakuan Wilayat al-Faqih, saat ini hampir semua sekte Syiah telah terintegrasi ke dalam satu kesatuan yang utuh dan permanen, menunggu hadirnya Imam Mahdi versi Syiah. Syiah Iran akan musnah menjelang berdirinya kiamat, yang dimulai dengan Perang Dunia III (Armageddon).

Demikian, semoga bermanfaat, khususnya bagi penulis dan seluruh umat Islam. Selalu waspada dengan berbagai propaganda, fitnah dan tipu muslihat Syiah Iran. Wallahu ‘alam.

Penulis: DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM (Doktor Hukum Ketahanan Nasional, Pengurus MUI Pusat).

Untuk kepentingan korespondensi, komentar, pertanyaan dan lain-lain silahkan hubungi ke alamat : abdulchair24@yahoo.co.id
KESESATAN SYIAH : Akhir Februari lalu publik Australia dikejutkan oleh pengakuan dua “imam moderat” yang tampil di televisi nasional. Salah satunya adalah Syaikh Mohammad Tawhidi, “ulama” yang pernah menyamakan Allah dengan Ali bin Abi Thalib di tiwtternya ini menuduh komunitas Muslim di Australia Selatan telah diam-diam mendirikan negara dalam negara.  Lebih lanjut, 


ia bahkan menganjurkan agar pemerintah Negeri Kanguru melakukan pemantauan pada tiap masjid dan pemeriksaan seksama pada ,semua pemimpin komunitas Muslim di sana. Tuduhan serius ini terhambur begitu saja dari mulut Tawhidi, tanpa bukti apapun.

Menaggapi klaim itu, kru OnePath, jaringan media milik komunitas Muslim Australia, melakukan investigasi, siapa sebenarnya si Tawhidi itu. Lelaki ini mendaku diirnya adalah pemimpin organisasi bernama The Islamic Association of South Australia dan Imam for Peace, sebuah lembaga yang konon berupaya mempromosikan perdamaian dan toleransi.  Paket gombal yang seringkali jadi jualan itu. Masalahnya, setelah ditelusuri komunitas Muslim di sekitar situ sama sekali tidak tahu menahu keberadaan lembaga milik Tawhidi. Imam for Peace yang ia klaim sebagai wadah bagi pemimpin agama dari seluruh dunia itu hanya memiliki satu anggota, dirinya sendiri

Belum puas, tim OnePath menghubungi ANIC (Australian National Imam Counsil) sebagai organisasi ‘’sertifikasi’’ Imam yang telah diakui di Australia. Hasilnya, nama Tawhidi sama sekali tak dikenal, “This individual is not a recognized Imam, Syeikh, or a Muslim leader” Pernyataan serupa juga disampaikan oleh ketua Imam Council of South Australia, “Mr. Tawhidi is not part of the Islamic leadership in SA and is in no way recognized.”

Jadi itulah Tawhidi, tak lebih dari  seorang conartist, seorang “fake imam”. Ia tak dikenali warga sekitar, dan satu-satunya anggota di organsiasinya adalah dirinya sendiri. Pendeknya, jones maksimal! Mungkin memang kesendirian itu membuatnya frustasi dan akhirnya menjadi delusional. Jika membuat website, lalu mendirikan organisasi yang isinya cuma dirimu sendiri sudah cukup membuat seorang menjadi imam, tentu saya sudah jadi imam besar dari dulu.

Semua tentang Tawhidi ini mungkin terdengar lucu menggelikan, anda mungkin merasa geli, mengapa orang-orang bisa-bisanya percaya? Well, ternyata banyak juga yang percaya, bahkan merayakan pernyataan si Tawhidi. Politisi sayap kanan Australia bertepuk tangan mendengarnya. Ocehan Tawhidi itu melancarkan jalan politik mereka; menyebarkan sentiment anti-Islam dan menjadikannya jualan di pemilu. Strategi ini tampaknya sedang disukai politisi populis di Barat.  Warga AS rela memilih bintang reality show dengan integrias moral dan kapasitas otak dipertanyakan menjadi presiden, ia cukup  berjanji akan menyelamatkan mereka dari “ancaman Muslim radikal” (santricendekia)